Analisis Perekonomian Daerah "Kabupaten Lamongan"
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak bangsa-bangsa, karena
itu disebut negara maritim. Salah satunya yakni daerah yang dikenal dengan kota
Soto yakni daerah Kabupaten Lamongan. Dipimpin oleh bupati yang bernama H.
Fadeli untuk mengawal alur laju daerah, baik dalam sektor perekonomian,
industri, pertanian dan
kependudukan.
Proses perubahan struktur perekonomian ditandai
dengan menurunnya pangsa sektor primer (pertanian), meningkatnya pangsa sektor
sekunder (industri), dan pangsa sektor tersier (jasa) juga memberikan
kontribusi yang meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi (Todaro, 1999). Pebangunan nasional dikatan
atau disebut buah dari pembangunan ekonomi, dapat menentukan salah satu bentuk
atau gambaran suatu daerah di berbagai daerah, Khusunya Kabupaten Lamongan yang
menjadi faktor pembangunan nasonal adalah prilaku perekonomian yng terdapat di
kabupaten ini yang fokus kepada sektor pertanian.
Pengembangan
pada daerah di sesuaikan oleh pemerintah daerah itu sendiri dengan potensi yang
ada digunakan sebgai ciri khas dari daerahnya. Pertumbuhan ekonomi di daerah
Kabupaten lamongan dalam 5 tahun terakhir (2013-2017) mengalami perubahan
fluktuasi dari tahun ketahun. Dan dalam pengembangan SDA/SDM di kabupaten
lamongan dapat digunakan sebagai
kesempatan yang baik bagi pemerintahan daerah lamngan untuk mensejahterakan
perekonomian masyarakat dengan cara memeratakan pendistribusian pendapatan
daerah daerah dan memperbaiki infrastruktur yang di kabupaten lamongan.
Kabupaen lamongan adalah salah satu kabupaten di provinsi JATIM (jawa timur).
Data yang ada menyebutkan Dalam kurun waktu 2012 - 2016, indeks produksi tanaman pangan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.
Indeks produksi tanaman pangan tahun sebesar
113,10 atau meningkat 5,69 poin dibanding
tahun sebelumnya. Kenaikan indeks
produksi ini terjadi baik pada komoditas
padi maupun palawija secara umum. Untuk itu penulis melakukan beberapa analisis
yang akan menjelaskan tentang kabupaten Lamongan.
B. Tujuan
Penelitian.
1.) Untuk Mengetahui tentang Gambaran umum
Kabupaten Lamongan.
2.)
Untuk Mengetahui
tentang Analisis PDRB dan Pendapatan Perkapita.
3.)
Untuk
Mengetahui tentang Perubahan Struktur Ekonomi Daerah.
4.)
Untuk
Mengetahui tentang Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
5.) Untuk Mengetahui tentang Distribusi Pendapatan dan
Kemiskinan.
6.)
Untuk
Mengetahui tentang Pembangunan Ekonomi Daerah.
7.)
Untuk
Mengetahui tentang Perkembangan Sektor pertanian.
8.)
Untuk
Mengetahui tentang Permasalahan utama kondisi ekonomi daerah dan solusinya.
C.
Manfaat Penelitian.
1.
Manfaat Teoritis.
Hasil Analisis di makalah ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia kampus pendidikan khususnya di jurusan
Manajamen Uin Maulana Malik Ibrahim Malang, dan diharapkan sebagai pusat
refrensi yang dapat membantu meringankan beban proses pembuatan penuisan
pembaca.
2.
Manfaat Praktis.
Hasil Analisis ini diharapkan dapat
dijangkau semua pihak yang terkait dalam penelitian ini, diantaranya sebagai
masukan bagi pihak kawan mahasiswa dan dosen terutama dalam proses pengembangan
diri, dan Agar dapat sebagai rujukan pegembangan ilmu teknologi pendidikan
sesuai dengan kurikulum kampus.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Gambaran Umum Objek Analisis.
PETA WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN
MAP OF LAMONGAN REGENCY
![]() |
Lamongan merupakan dataran rendah dan bonorowo dengan memiliki
tingkat ketinggian 0-25 meter seluas 50,17%, sedangkan ketinggian 25-100
meter seluas 45,68%, selebihnya 4,15% berketinggian di atas 100 meter di atasopermukaan air laut, 6º
51’ 54’’ sampai dengan 7º23’6’’ lintang selatan dan antara 112º 4’41’’ sampai
dengan 112º 33’12’’ bujur timur. Daerah Kabupaten Lamongan ini memiliki luas
wilayah kurang lebih 1.812,8 km2 atau +3.78% dari luas wilayah seluruh Provinsi Jawa Timur. Dengan panjang garis
pantai sepanjang 47 km, maka wilayah perairan laut Kabupaten Lamongan adalah
seluas 902,4 km2, apabila dihitung 12 mil dari permukaan laut.
Kabupaten
Lamongan terdiri dari 27 kecamatan yang terbagi menjadi 3 karakteristik daratan
berdasarkan aliran sungai bengawan solo yaitu bagian tengah selatan merupakan
daratan rendah yang relatif sedikit subur yang membentang dari Kecamatan
Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan, Deket, Tikung, Sugio, Maduran,
Sarirejo, dan Kembangbahu, kemudian bagian utara dan selatan yang merupakan
pegunungan kapur berbatu-batu dengan kesuburan sedang meliputi Kecamatan
Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan
Solokuro serta bagian tengah utara yang merupakan daerah rawan banjir meliputi
Kecamatan Sekaran, Laren, Karanggeneng,
Kalitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah
Data Dinas PU Sumber Daya Air mencatat rata-rata curah hujan Tahun 2017 di
Kabupaten Lamongan adalah sebesar 1.634 mm per tahun dengan jumlah hari hujan
sebanyak 201 hari, dengan rata-rata curah hujan selama sepuluh tahun terakhir sebesar 1.667 mm pertahun.
2.1.2 Letak dan Kondisi Geografis
Posisi Secara geografis, Kabupaten Lamongan memiliki letak yang sangat
strategis, karena berada pada jalur
Pantai Utara yang menghubungkan kabupaten/kota di wilayah Utara Jawa Timur.
Kabupaten Lamongan berada di dalam perlintasan jalur arteri primer
Surabaya-Lamongan-Tuban hingga Jawa Tengah dan jalan provinsi
Mojokerto-Lamongan. Ibukota Kabupaten Lamongan berjarak 44,8 km dari Surabaya,
Ibukota Provinsi Jawa Timur.Kabupaten Lamongan terletak pada 6º 51’ 54” sampai
dengan 7º 23’ 6” Lintang Selatan dan diantara garis bujur timur 112° 4’ 41”
sampai 112° 33’ 12” bujur timur.
Kondisi
Wilayah Kawasan Kabupaten Lamongan dibelah oleh Sungai Bengawan Solo, dan secara garis besar daratannya dibedakan menjadi tiga karakteristik yaitu
:
·
Bagian Tengah Selatan adalah dataran
rendah yang relatif subur yang membentang dihitung dari Kecamatan
Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan,Deket, Tikung Sugio, Maduran,
Sarirejo dan Kembangbahu
·
Bagian Selatan dan Utara adalah
pegunungan kapur berbatu–batu dengan kesuburan sedang. Kawasan ini terdiri dari
Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran,
dan Solokoro
·
Bagian Tengah Utara adalah daerah
Bonorowo yang merupakan daerah rawan banjir. Kawasan ini meliputi Kecamatan
Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Karangbinangun dan Glagah.
2.1.2.3
Kondisi
Topografi
Kabupaten Lamongan dapat dilihat dari ketinggian wilayah di atas permukaan laut dan kelerengan
lahan. Daerah Kabupaten Lamongan terdiri dari dataran rendah dan berawa dengan
ketinggian 0 -20 m dengan luas 50,17% dari luas Kabupaten Lamongan, daratan
ketinggian 25-100 m seluas 45,68% dan sisanya yakni berjumlah 4,15% merupakan
daratan dengan ketinggian di atas 100 m.
Tabel 1 : Presentase
luas wilayah menurut kecamatan di Kabupaten Lamongan, 2017
Precentage of
Total Area by Subdistrict In Lamongan Regency,2017

Terdapat banyak sekali perbedaan luas di berbagai Kecamatan yang
ada di daerah Kabupaten Lamongan sekitar 27 tercatat terdata di Presentase
Wilayah menrurut kecamatan yang ada di Kabupaten di Lamongan pada tahun 2017.
Dilanjutkan menganalisis rata rata curah hujan yang ada di berbagai kecamatan.
Ada yang wilayah kecamatnnya sering diguyur air hujan dan ada yang wilyah
kecamatannya sedikit di guyur curah hujan.
Rata-rata curah hujan menurut stasion Pengamatan di Kabupaten Lamongan, 2017 Average of Precipitation by
Observation Station in Lamongan Regency, 2017
Tabel 2
Dari data grafik pernyataan rata-rata curah hujan diatas bahwa di daerah
kabupaten lamongan mengalami kenaikan pada tahun 2013-2016 dan juga mengalami
penurunan pada tahun selanjutnya yakni pada tahun 2017.
Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Lamongan, 2017
Total
Area by The Subdistrict in Lamongan Regency, 2017
Tabel 3
|
Kecamatan
Subdistrict
|
Luas/Area (km2)
|
Persentase
Percentage
|
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
|
1. Sukorame
|
4 147
|
2
|
|
2. Bluluk
|
5 415
|
3
|
|
3. Ngimbang
|
11 433
|
6
|
|
4. Sambeng
|
19 544
|
11
|
|
5. Mantup
|
9 307
|
5
|
|
6. Kembangbahu
|
6 384
|
4
|
|
7. Sugio
|
9 129
|
5
|
|
8. Kedungpring
|
8 443
|
5
|
|
9. Modo
|
7 780
|
4
|
|
10. Babat
|
6 295
|
3
|
|
11. Pucuk
|
4 484
|
2
|
|
12. Sukodadi
|
5 232
|
3
|
|
13. Lamongan
|
4 038
|
2
|
|
14. Tikung
|
5 299
|
3
|
|
15. Sarirejo
|
4 739
|
3
|
|
16. Deket
|
5 005
|
3
|
|
17. Glagah
|
4 052
|
2
|
|
18.
Karangbinangun
|
5 288
|
3
|
|
19. Turi
|
5 869
|
3
|
|
20.
Kalitengah
|
4 335
|
2
|
|
21.
Karanggeneng
|
5 132
|
3
|
|
22. Sekaran
|
4 965
|
3
|
|
23. Maduran
|
3 015
|
2
|
|
24. Laren
|
9 600
|
5
|
|
25. Solokuro
|
10 102
|
6
|
|
26. Paciran
|
4 789
|
3
|
|
27. Brondong
|
7 459
|
4
|
|
Lamongan
|
181 280
|
100
|
Sumber: Badan Pertanahan Kabupaten Lamongan
Source: Land Agency of Lamongan Regency
Geologi Secara fisiografis wilayah Kabupaten
Lamongan bagian utara dan selatan termasuk
dalam Zone Rembang (van Bemmelen, 1949) yang disusun oleh endapan paparan yang
kaya akan unsur karbonatan, sedangkan wilayah bagian tengah termasuk zone Randu
blatung yang kenampakan permukaannya merupakan dataran rendah, namun sebetulnya
merupakan suatu depresi (cekungan) yang tertutup oleh endapan hasil pelapukan
dan erosi dari batuan yang lebih tua pada Zone Kendeng dan Rembang.
Sejarah geologi Kabupaten Lamongan
diperkirakan dimulai kurang lebih 37 juta tahun yang lalu (Kala Oligosen). Saat
itu wilayah Kabupaten Lamongan masih berupa lautan(bagian dari Cekungan Jawa
Timur).Selanjutnya terjadi proses sedimentasi secara berurutan ke atas berupa
penghamparan batuan sedimentasi laut yang kaya unsur karbonatan. Proses ini
berlangsung hingga kurang lebih 19 juta tahun(hingga Kala Polisen). Pada kurang
lebih 1,8 juta tahun yang lalu terjadi aktifitas tektonik.
Adapun jenis batuan yang telah
dijumapi di Kabupaten Lamongan dan dapat dikelompokkan yakni:
·
Satuan Batu Lanau dengan sisipan
batu gamping pasiran dan batu lempung.
·
Satuan Batu Pasir Tufan ciri dengan
sisipan konglomerat, breksi dan bantu lempung.
·
Satuan Batu Lempung dengan sisipan
batu paser gampingan dan batu gamping.
·
Satuan Batu Gamping koral dan klasik
ciri sisipan napal dan batu lempung.
2.1.2.4 Hidrologi
Secara umum keberadaan air di Daerah
Kabupaten Lamongan didominasi oleh air permukaan, yang pada saat musim
penghujan dijumpai dalam jumlah yang cukup melimpah hingga mengakibatkan
banjir, namun sebaliknya pada saat musim kemarau tiba disebagian besar wilayah
Kabupaten Lamongan relatif berkurang.
Ketersediaan air permukaan ini sebagian tertampung di waduk-waduk,
rawa, embung dan sebagian lagi mengalir melalui sungai-sungai. Kabupaten
Lamongan dilewati oleh 3 buah sungai besar, yakni Sungai Bengawan Solo
sepanjang ± 68 Km dengan debit rata – rata 531,61 m3/bulan (debit maksimum
1.758,46 m3 dan debit minimum 19,58 m3) yang bermata air di Waduk Gajah Mungkur
(Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah), Kali Blawi sepanjang ± 27 Km dan Kali Lamong
sepanjang ± 65 Km yang bermata air di Daerah Kabupaten Lamongan. Selain dialiri
oleh ketiga sungai besar tersebut, yakni kondisi hidrologi ditentukan oleh terdapatnya
telaga dan mata air yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan air
bersih dan sarana rekreasi masyarakat.
2.1.2.5 Klimatologi
Aspek klimatologi yakni ditinjau dari kondisi suhu dan curah hujan.
Kondisi iklim di Kabupaten Lamongan adalah
iklim tropis yang dibedakan atas 2 (dua) musim, yakni musim penghujan dan musim
kemarau. Curah hujan di Kabupaten Lamongan tahun 2014 terbilang cukup tinggi. Telah
tercatat rata-rata curah hujan yang diperoleh dari 25 stasiun pengamatan yang
ada di Kabupaten Lamongan yaitu sebanyak 1.702 mm dengan rata-rata curah hujan
paling banyak terjadi pada bulan Desember 2014 yaitu sebanyak 312 mm data yang
telah dipaparkan yakni data yang telah terpercaya dalam sensus yang telah
dilakukan Peerintah Daerah Kabupaten Lamongan.
2.2
Analisis PDRB dan Pendapatan
Perkapita.
Tabel 4 Produk Domestik Regional Bruto dan PDRB
Perkapita
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017
|
|
U r a i a n
|
|
|
2013
|
|
|
2014
|
|
|
2015
|
|
|
2016*
|
|
|
2017**
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
(1)
|
|
|
(2)
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
(6)
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai PDRB (Miliar Rp)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
- ADHB
|
|
23 012,34
|
|
25 704,52
|
|
28 746,24
|
|
31 707,26
|
|
34 370,51
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
- ADHK 2010
|
|
19 848,84
|
|
21 099,94
|
|
22 316,88
|
|
23 623,79
|
|
24 927,95
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PDRB perkapita (Ribu Rp)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
- ADHB
|
|
19 397,07
|
|
21 653,49
|
|
24 201,35
|
|
26 685,28
|
|
28 919,77
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
- ADHK 2010
|
|
16 730,56
|
|
17 774,59
|
|
18 788,49
|
|
19 882,12
|
|
20 974,68
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pertumbuhan PDRB perkapita
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
ADHK 2010 (%)
|
|
6,77
|
|
6,24
|
|
5,70
|
|
5,82
|
|
5,50
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penduduk
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
- Jumlah (000 org)
|
|
1 186,38
|
|
1 187,08
|
|
1 187,80
|
|
1 188,19
|
|
1 188,48
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
- Pertumbuhan (%)
|
|
0,15
|
|
0,06
|
|
0,06
|
|
0,03
|
|
0,02
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
|
Keterangan : * sementara
|
|
** sangat
|
sementara
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
Data ini menjelaskan nilai produk
barang dan jasa yang dihasilkan di suatu wilayah ekonomi domestik, yanki di
mana di dalamnya terdapat masih terkandung nilai penyusutan.
PDRhttps://lamongankabB dapat digunakan sebagai ukuran “produktivitas”,karena menjelaskan
kemampuan wilayah dan menghasilkan produk domestik, yang akan dihitung melalui
3 (tiga) pendekatan, yaitu pendekatan
nilai tambah, pengeluaran, dan pendapatan.
Tabel diatas. Telah Menunjukkan
peningkatan PDRB per-kapita Daerah Kabupaten Lamongan dari tahun ke tahun yang
seiring dengan kenaikan jumlah komposisi penduduk. Faktor ini menunjukkan bahwa
secara ekonomi setiap penduduk Lamongan rata-rata mampu menciptakan PDRB atau
(nilai tambah) sebesar nilai perkapita di masing-masing tahun tersebut.
Sementara itu, pertumbuhan
per-kapita secara “riil” juga selalu meningkat pada kisaran 5 sampai 6 persen.
Pertumbuhan tersebut diikuti pula oleh penambahan jumlah penduduk, yang
meningkat rata-rata 0,06 persen setiap tahunnya. Dengan demikian maka
pertumbuhan per-kapita tersebut tidak
saja terjadi secara “riil” tetapi juga terjadi secara kualitas.
Apabila
dilihat dalam perkembangan kontribusi pada masing-masing kategori dari tahun ke
tahun terhadap total PDRB pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan
perikanan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan peran dan selalu menjadi
penyumbang utama dalam pembentukan PDRB, dan demikian pula pada kategori
Perdaganan besar dan eceran; reparasi
mobil dan sepeda motor.
pada tahun ini kabupaten lamongan telah banyak investor yang akan berdatangan
di daerah lamongan. Dengan adanya investor yang masuk di industri kabupaten
lamongan dapat mendongkrak perekonomian daerah yang mulai meningkat dengan
baik.
Banyaknya pabrik industri pengolahan di
kawasan lamongan harus Peranan lapangan usaha terhadap PDRB Kabupaten lamongan untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat dan memajukan prekonomian daerah untuk bisa bersaing
dengan daerah lainya dan dapat mengurangi adanya pengangguran. Sehingga dengan
adanya kebijakan pemirintah daerah untuk membuka lahan lapangan industri maupun
membuka para investor untun berinvestasi di daerah lamongan agar tidak terjadi
adanya ketimpangan di daerah lamongan khususnya di daerah selatan Lamongan,
pemerintah daerah merencanakan adanya pabrik bebas polutan di daerah tersebut.
2.3 Perubahan
Struktur Ekonomi Daerah.
( Struktur ekonomi
Lamongan. 2013 – 2017 )
Tabel
5.

Dilihat dari pernyataan data
diatas dapat dikatakan lamongan sejak tahun 2008 sampai 2017 mengalami tingkat Pertanian,
kehutanan dan perikanan yang sangat tinggi yakni mencapai 37,23
dibandingkan data yang lain, menyatakan
Perdaganan besar dan eceran; reparasi
mobil dan sepeda motor, 17,09-19,08 Kontruksi11,42-12,2, Industri
pengolahan 8,18, Informasi dan komunikasi posisi paling rendah presentasenya
dengan 6,44 dapat disimpulkan bahwa terjadi
struktur ekonomi yang memihak sektor Pertanian, kehutanan, dan perikanan.
2.4 Analisis
Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
Pengembangan
pada daerah di sesuaikan oleh pemerintah daerah dengan potensi yang ada
digunakan sebagai ciri khas dari daerahnya. Pertumbuhan ekonomi di daerah
Kabupaten lamongan dalam 5 tahun terakhir (2013-2017) mengalami perubahan
fluktuasi dari tahun ketahun. Dan dalam pengembangan SDA/SDM di kabupaten
lamongan dapat digunakan sebagai
kesempatan yang baik bagi pemerintahan daerah lamongan. Indonesia sendiri
memiliki banyak potensi yang harus dikembangkan guna untuk perbaikan
perekonomian yang ada di daerah Lamongan. Tahun 2013-2017 tercatat di sektor
pertanian, kelautan dan juga pariwisata mengalami pariwisata mengalami kenaikan
pesat sebagai penggerak perekonomian
Kabupaten Lamongan dan juga memajukan dalam sektor infrastruktur , pada
perindustrian, pada bidang pertanian sebagai bentu perbaikan perekonomian di
Kabupaten Lamongan.
Tabel 6. Perbandingan konsumsi akhir rumah tangga terhadap Ekspor
Struktur Pengeluaran Konsumsi Akhir Rumah Tangga
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013- 2017
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Persen)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kelompok Konsumsi
|
2013
|
|
2014
|
|
2015
|
|
2016*
|
|
2017**
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(1)
|
(2)
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
(6)
|
|
|
|
|
a. Makanan, Minuman, dan Rokok
|
37,94
|
|
37,28
|
|
36,75
|
|
36,36
|
|
35,96
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b. Pakaian dan Alas Kaki
|
3,71
|
|
3,62
|
|
3,53
|
|
3,53
|
|
3,56
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c. Perumahan, Perkakas, Perlengkapan dan
|
10,19
|
|
10,22
|
|
10,30
|
|
10,25
|
|
10,27
|
|
|
|
Penyelenggaraan
Rumah
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d. Kesehatan dan Pendidikan
|
7,11
|
|
7,13
|
|
7,66
|
|
7,70
|
|
7,72
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
e. Transportasi, Komunikasi, Rekreasi, dan
|
19,89
|
|
20,58
|
|
20,74
|
|
20,98
|
|
21,26
|
|
|
|
Budaya
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
f. Hotel dan Restoran
|
15,37
|
|
15,05
|
|
14,88
|
|
14,89
|
|
14,84
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
g. Lainnya
|
5,79
|
|
6,12
|
|
6,15
|
|
6,30
|
|
6,38
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total Konsumsi
|
100,00
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan : * sementara ** sangat sementar
Indikator ini menunjukkan perbandingan antara
produk yang dikonsumsi RT di wilayah domestik dengan produk yang diekspor.
Selama ini konsumsi rumah tangga mempunyai kontribusi yang sangat dominan dalam
pengeluaran PDRB Lamongan (sekitar 70 persen), yang artinya bahwa seluruh
produk yang dihasilkan di wilayah Lamongan sebagian besar digunakan untuk
konsumsi akhir rumah tangga. Tetapi di dalamnya termasuk pula sebagian produk
yang berasal dari impor
Data di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2013,
produk yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebanyak 1,55 kali dari yang
dieskpor. Berarti sebagian besar penyediaan (supply)
domestik diserap untuk memenuhi permintaan konsumsi akhir rumah tangga. Selama
periode 2013-2017, rasio perbandingan konsumsi rumah tangga terhadap ekspor
menunjukan fluktuasi. Secara implisit data tersebut menjelaskan, bahwa walaupun
nilai konsumsi akhir rumah tangga dan ekspor mengalami fluktuasi tetapi
peningkatan nilai ekspor jauh lebih cepat. Peningkatan tersebut terutama
disebabkan oleh perubahan volume maupun harga. Selain itu, penurunan rasio
tersebut juga disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan ekspor yang lebih cepat
dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
. Tabel 7. Perkembangan dan Struktur Perubahan Inventori
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017
|
|
U r a i a n
|
|
|
2013
|
|
|
2014
|
|
|
2015
|
|
|
2016*
|
|
|
2017**
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
(1)
|
|
|
(2)
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
(6)
|
|
|||||
|
|
Total Nilai Inventori
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
a. ADHB (Miliar Rp)
|
|
1,94
|
|
954,77
|
|
144,61
|
|
146,11
|
|
153,19
|
|
|||||
|
|
b. ADHK 2010 (Miliar Rp)
|
|
2,86
|
|
642,30
|
|
95,25
|
|
89,88
|
|
93,79
|
|
|||||
|
|
Proporsi terhadap PDRB ( % ADHB)
|
|
0,01
|
|
3,71
|
|
0,50
|
|
0,46
|
|
0,45
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
Keterangan : * sementara ** sangat sement
|
ra
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
Berbeda dengan komponen pengeluaran lain yang bisa
dianalisis agak rinci, perubahan inventori baru dapat dianalisis dari sisi
proporsinya saja. Perbedaan pendekatan dan tata cara estimasi menyebabkan
komponen inventori tidak banyak dikaji lebih. Hal utama dapat dilihat dari
komponen ini adalah, proporsi dalam PDRB pada umumnya mempunyai besaran atau
nilai yang berfluktuasi baik dalam level maupun di tandanya (positif /negatif).
Pada Tahun 2013 perubahan inventori sebesar
1,94 miliar rupiah, lalu pada tahun 2014
perubahan inventori nilainya sebesar 954,77 miliar rupiah dan pada tahun
berikutnya mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar
144,61 miliar rupiah (2015); 146,11 miliar rupiah (2016) dan 153,19 persen
(2017). Sedang apabila dicermati proporsinya dalam PDRB, Total inventori memiliki besaran yang berfluktuasi dari tahun
2013-2017. Pada tahun 2013 mempunyai porsi 0,01 persen di dalam PDRB dan di tahun
berikutnya peranannya meningkat menjadi 3,71 persen. Lalu turun di tahun 2015
yang mempunyai porsi sebesar 0,50 persen dan tahun 2016 turun menjadi 0,46
persen dan terus mengalami penurunan menjadi 0,45 persen.
2.5 Analisis Distribusi pendapatan dan
Kemiskinan (Termasuk Ketimpangan Antar
Kecamatan)
Tabel 8. Distribusi PDRB Menurut Pengeluaran,
Kabupaten Lamongan Tahun 2013-2017
|
|
Komponen Pengeluaran
|
|
|
2013
|
|
|
2014
|
|
|
2015
|
|
|
|
2016*
|
|
|
2017**
|
|
|
|
(1)
|
|
(2)
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
(6)
|
|
||||||
|
1.
|
Konsumsi Rumah Tangga
|
|
77,80
|
|
75,53
|
|
73,38
|
72,69
|
|
72,67
|
|
|||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
2.
|
Konsumsi LNPRT
|
|
2,13
|
|
2,34
|
|
2,31
|
|
2,33
|
|
2,28
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
3.
|
Konsumsi Pemerintah
|
|
8,93
|
|
8,35
|
|
8,03
|
|
7,54
|
|
7,36
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
4.
|
PMTB
|
|
31,34
|
|
31,11
|
|
30,92
|
|
31,91
|
|
32,83
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
5.
|
Perubahan Inventori
|
|
0,01
|
|
3,71
|
|
0,50
|
|
0,46
|
|
0,45
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
6.
|
Ekspor Antar Daerah
|
|
50,35
|
|
50,70
|
|
47,59
|
|
48,16
|
|
51,41
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
7.
|
Impor Antar Daerah
|
|
70,57
|
|
71,75
|
|
62,74
|
|
63,09
|
|
67,00
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
Total PDRB
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
100,00
|
|
||||||
2.5.1 Perkembangan Impor Barang
Dan Jasa
Aktivitas pengeluaran (konsumsi rumah tangga, LNPRT, dan
pemerintah) maupun PMTB (termasuk inventori) dan ekspor, didalamnya terkandung
produk
yang berasal dari impor. PDRB
menggam arkan produk yang benar-benar dihasilkan oleh
https://lamongankabekonomidomestikLamong. Sehingga untuk mengukur potensi dan
besaran produk domestik, yakni komponen impor tersebut harus dikeluarkan dari
penghitungan yaitu dengan cara mengurangkan nilai PDRB (e) dengan nilai impornya. Hasil pengurangan kemudian yang secara
konsep harus sama dengan nilai PDRB menurut lapangan usaha (sektor).
Berbeda dengan komponen ekspor, transaksi impor ini menjelaskan ada
tambah penyediaan (supply) dan produk
di wilayah ekonomi domestik yang berasal dari dari non residen.
Tabel 9. Perkembangan
Impor Barang dan Jasa
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017
|
|
U
r a i a n
|
|
|
2013
|
|
|
2014
|
|
|
2015
|
|
|
2016*
|
|
|
2017**
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
(1)
|
|
(2)
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
(6)
|
|
||||||
|
|
Total Nilai Impor
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a. ADHB (Miliar Rp)
|
|
16.239,40
|
18.441,77
|
|
18.034,92
|
20.004,34
|
|
23.028,78
|
||||||||
|
|
b. ADHK 2010 (Miliar Rp)
|
|
14.034,05
|
15.137,62
|
|
15.024,38
|
16.032,96
|
|
17.584,89
|
||||||||
|
|
Pertumbuhan Nilai Impor (%)
|
|
8,90
|
7,86
|
|
(0,75)
|
6,71
|
|
9,68
|
||||||||
|
|
Keterangan : * sementara **
|
|
sangat
sementara
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
Tabel di atas telah menunjukkan pola
perkembangan impor di daerah Lamongan pada periode tahun 2013 sampai dengan
2014 yang selalu meningkat (baik adh Berlaku maupun adh Konstan 2010), a tetapi
tahun 2015 menurun dan meningkat lagi tahun 2016 dan 2017. Pada tahun 2014,
nilai impor mengalami peningkatan nilai mencapai 18.441,77 miliar rupiah
dibanding tahun 2013 yang hanya sebesar 16.239,40 miliar. Pada tahun berikutnya
nilai impor mengalami penurunan dari 18.441,77 miliar rupiah ( 2014) menjadi
18.034,92 miliar rupiah (2015), kemudian meningkat menjadi 20.004,34 miliar rup
ah (2016) dan 23.028,78 miliar rupiah (2017).
![]() |
BIRU=
Jawa Timur
Merah=Kabupaten Lamongan
Pengangguran dalam Jawa Timur
mengalami ketidakstabilan, dan pernah mengalami masa yang sangat tinggi tingkat
penganggurannya pada tahun 2005 dan terus mengalami menurunan kemiskinan sampai
2017, yakni tahun yang tingkat kemiskinannya sudah teratasi.
Begitupula kabupaten lamongan yang
mengalami naik turunnya sebuah tingkat kemiskinan pada tahun 2002 naik ke 2003
lalu melonjak angka pada tahun 2008 dan teratasi di tahun sesudahnya 2010 dan
signifikan ke angkat tahun 2007 yang sama diartkan berkurangnya angka
emiskinannya. Dibawah grafik yang menyatakan kemunduran angka kemiskinan di
kabupaten lamongan.
2.5.2 Kemiskinan
di daerah kabupaten Lamongan.
192.00
2013 2014` 2015 2016 2017
|
Tabel 10. Pertumbuhan PDRB Menurut
Pengeluaran,
|
|
|
|
||||||||||||||
|
Kabupaten Lamongan Tahun
2013-2017
|
|
|
|
||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
Komponen Pengeluaran
|
|
|
2013
|
|
|
2014
|
|
|
2015
|
|
|
|
2016*
|
|
|
2017**
|
|
|
(1)
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
|
(6)
|
|
(7)
|
|
|||||
|
Konsumsi Rumah Tangga
|
|
7,00
|
|
4,84
|
|
5,08
|
|
|
5,33
|
|
5,08
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
Konsumsi LNPRT
|
|
13,64
|
|
22,02
|
|
1,41
|
|
|
6,75
|
|
2,86
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
Konsumsi Pemerintah
|
|
6,91
|
|
2,93
|
|
2,63
|
|
|
(2,08)
|
3,10
|
|||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
PMTB
|
|
7,39
|
|
2,65
|
|
6,33
|
|
|
7,66
|
|
6,79
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
Perubahan Inventori
|
|
1.218,88
|
|
22.381,61
|
|
(85,17)
|
|
|
(5,64)
|
4,35
|
|||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
Ekspor Antar Daerah
|
|
8,94
|
|
6,58
|
|
3,43
|
|
|
7,84
|
|
11,20
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
Impor Antar Daerah
|
|
8,90
|
|
7,86
|
|
(0,75)
|
|
|
6,71
|
|
9,68
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
Total PDRB
|
|
6,93
|
|
6,30
|
|
5,77
|
|
|
5,86
|
|
5,52
|
||||||
|
Keterangan : * sementara
|
|
** sangat sementara
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
Pertumbuhan riil
PDRB atau lebih dikenal dengan pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan agregat makro lain yang dapat diturunkan
dari data PDRB, yang menggambarkan kinerja pada pembangunan di bidang ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi Lamongan dari tahun 2013 sampai 2017 secara rata-rata
mencapai 6,36 persen, masing-masing pertumbuhan sebesar 6,93 persen (2013) 6,30
persen (2014) 5,77 persen (2015) 5,86 persen (2016) dan 5,52 (2017).
Pertumbuhan paling tertinggi terjadi di tahun 2013 yakni sebesar 6,93 persen,
sebaliknya yang terendah terjadi pada tahun 2017 sebesar (5,52 persen).
|
|
Tabel 11. Pertumbuhan Riil Pengeluaran
Konsumsi Akhir Rumah Tangga
|
|||||||||||||||||
|
|
|
Kabupaten Lamongan, Tahun
2013-2017
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Persen)
|
|
|
|
Kelompok Konsumsi
|
|
|
2013
|
|
|
2014
|
|
|
2015
|
|
|
2016*
|
|
|
2017**
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(1)
|
|
|
(2)
|
|
|
(3)
|
|
(4)
|
|
(5)
|
|
(6)
|
|
|||||
|
|
a. Makanan, Minuman, dan
|
|
6,48
|
|
|
5,13
|
|
3,38
|
|
3,65
|
|
3,86
|
|
|||||
|
|
Rokok
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
b. Pakaian dan Alas Kaki
|
|
4,90
|
|
|
4,89
|
|
4,72
|
|
4,25
|
|
4,67
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c. Perumahan, Perkakas,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Perlengkapan dan
|
|
8,98
|
|
|
3,03
|
|
7,70
|
|
6,27
|
|
5,76
|
|
|||||
|
|
Penyelenggaraan
Rumah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d. Kesehatan dan Pendidikan
|
|
5,61
|
|
|
6,94
|
|
7,06
|
|
5,44
|
|
4,54
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
e. Transportasi, Komunikasi,
|
|
11,08
|
|
|
6,29
|
|
7,47
|
|
7,21
|
|
6,94
|
|
|||||
|
|
Rekreasi, dan Budaya
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
f. Hotel dan Restoran
|
|
3,40
|
|
|
1,40
|
|
3,03
|
|
5,66
|
|
4,64
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
|
g. Lainnya
|
|
|
5,37
|
|
|
7,49
|
|
5,62
|
|
7,07
|
|
6,38
|
|
||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
Keterangan : * sementara
|
** sangat sementara
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
Dilihat dari pertumbuhan “ riil ” nya,
pengeluaran rumah tangga di kelompok makanan telah mengalami perlambatan dari
tahun ke tahun, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 6,48 persen (2013) ;
5,13 persen (2014) ; 3,38 persen (2015) ;3,65 persen (2016) dan 3,86 persen
(2017). Demikian pula di kelompok konsumsi Pakaian dan Alas Kaki; Kesehatan dan
Pendidikan, Lainnya juga mengalami perlambatan sepanjang tahun. Sedangkan
kelompok konsumsi lain mengalami besaran pertumbuhan yang fluktuatif. Di antara
seluruh kelompok konsumsi, mengalami pertumbuhan tertinggi selama l ma tahun
terakhir yakni Transportasi, Komunikasi, Rekreasi dan Budaya yang tumbuh 11,08
persen di tahun 2013, sedang pertumbuhan terendah yakni Hotel dan Restoran pada
tahun 2014 tumbuh sebesar 1,40 persen.
Tabel 12. Persentase Penduduk Miskin Usia 15 Tahun ke Atas Menurut
Sektor Bekerja, Tahun 2017

![]() |
Dalam analisis pada tabel tersebut diterangkan bahwa tingkat kemiskinan
di daerah lamongan pada usia 15 tahun keatas yakni 36,96 lebih sedikit
dibandingkan dua daerah yaitu: tuban sekitar 40,94 Dan
gresik yang mencapai 48,00
2.6 Analisis Pembangunan Ekonomi Daerah di
Kabupaten Lamongan.
Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Lamongan harus disahkan paling lambat 16 Agustus
2016. Penegasan diungkapkan, Kabid Statistik dan Pelaporan Bappeda Propinsi
Jawa Timur Teguh Prayitno dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
Penyusunan RPJMD Kabupaten Lamongan Tahun 2016-2021 di Pendopo Lokatantra,
Selasa (19/7/2016).
Terkait RPJMD Lamongan, pemkab telah
mengapresiasi pencapaian beberapa indikator kinerja Kabupaten Lamongan yang
bisa melampaui Propinsi Jawa Timur bahkan Nasional. Diungkapakan, pada tahun
2015 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan mencapai 6,12 persen pada angka
sementara. Angka itu melebihi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berada di
angka 5,44 persen dan nasional yang sebesar 4,79 persen. Sedangkan tingkat
pengangguran terbuka Kabupaten Lamongan yang berada di angka 4,10 persen
menurut Teguh Prayitno juga jauh lebih rendah dibanding Jawa Timur yang 4,47%
persen dan Nasional yang 6,18 persen.
“Visi RPJMD Kabupaten Lamongan tahun 2016-2021
yakni Terwujudnya Lamongan Lebih Sejahtera dan Berdaya Saing yang ditempuh
dengan lima misi. Pertumbuhan ekonomi hingga lima tahun mendatang berada pada
kisaran 5,5 - 6,5%, PDRB per kapita di akhir tahun 2021 mencapai Rp. 42,90
juta, IPM dipasang mencapai 71 di akhir tahun 2021, tingkat kemiskinan telah
turun menjadi 12,91 persen dan Opini BPK menjadi WTP, “ terang Fadeli. (Bupati
lamongan)
“Tujuannya adalah untuk menyelaraskan strategi
serta sinkronisasi program prioritas kabupaten, Propinsi Jawa Timur dan
Nasional. Diharapkan setelah Musrenbang RPJMD ini akan dihasilkan rancangan akhir
RPJMD Tahun 2016-2021, “
2.7 Analisis Perkembangan Sektor Pertanian.
2.7.1 Tanaman Pangan
Dalam kurun waktu 2012 - 2016, indeks
produksi tanaman pangan dari tahun ke
tahun mengalami kenaikan. Indeks produksi tanaman pangan sebesar 113,10 atau
meningkat 5,69 poin dibanding tahun
sebelumnya. Kenaikan indeks produksi
terjadi baik pada komoditas padi
maupun palawija secara umumnya.
![]() |
Pada tahun 2016, komoditas padi sawah dan padang ladang telah mengalami kenaikan indeks produksi. Komoditas palawija yang mengalami peningkatan indeks produksi hanya terjadi pada jagung sedangkan kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar itu mengalami penurunan.
Tabel 13.
Grafik
1. Indeks Produksi Pertanian Tahun 2012
- 2016 (2010 = 100)
Graph 1. Production Indices Of Agriculture in 2012 - 2016 (2010 = 100)
2.7.2 Tanaman Hortikultura
Pada tahun 2016, indeks produksi horti
kultural naik sebesar 1,52 poin dibanding
tahun 2015, yaitu dari 121,10 menjadi
122,62. Indeks produksi buah-buahan mengalami
turun sebesar 3,36 poin sedangkan indeks produksi sayur-sayuran
naik sebesar 5,01 poin. Dari
kelompok buah-buahan, sebagian besar
komoditas mengalami penurunan indeks produksi terkecuali apel, jambu biji, jeruk keprok, pepaya
mengalami peningkatan indeks produksi. Dari
kelompok sayur-sayuran, komoditas mengalami peningkatan indeks produksi, kecuali buncis, kacang merah, kacang
panjang, kangkung, kentang, ketimun, lobak, melinjo, petai, dan terung yang
mengalami penurunan indeks produksi. Tabel 14.
![]() |
Grafik 3. Indeks Produksi Tanaman Hortikultura Tahun 2012 - 2016 (2010 =
100)
Graph 3. Production Indices Of Horticulture in 2012 - 2016 (2010 = 100)
2.7.3 Tanaman Perkebunan
![]() |
Pada tahun 2016, indeks produksi perkebunan meningkat dari 120,94 menjadi 125,39 atau naik sebesar 4,45 poin dari tahun 2015. Secara umum, indeks produksi perkebunan rakyat meningkat, tetapi terjadi penurunan indeks perkebunan sebesar 4,32 poin terdapat dari 133,61 poin pada tahun 2015 dan menjadi 129,29 poin di tahun 2016. Berdasarkan komoditas, peningkatan indeks produksi terjadi itu pada komoditas karet dan tembakau, sementara komoditas kelapa, kelapa sawit, kopi, teh, tebu dan cengkeh mengalami penurunan indeks produksi. Tabel 15.
Grafik 4. Indeks Produksi Tanaman Perkebunan Tahun
2012 - 2016
(2010 = 100)
Graph 4 Production Indices
Of Estate Crops in 2012 - 2016 (2010 = 100)
2.7.4 Peternakan
Seiring Indeks produksi peternakan dari tahun ke tahun telah
mengalami peningkatan. Pada tahun 2016, indeks
produksi peternakan adalah sebesar 135,07
atau peningkatan sebesar 7,82 poin. Dari indeks tahun 2015 sebesar 127,25. Peningkatan nilai indeks terjadi di tahun 2016 adalah yang paling besar selama lima tahun terakhir. Peningkatan indeks produksi pada tahun 2016 juga diikuti dengan peningkatan indeks pada tiap komoditas peternakan. Komoditas
yang telah mengalami peningkatan indeks produksi
paling besar adalah komoditas daging ayam ras pedaging, yakni sebesar 26,97 poin dari 134,04 pada tahun 2015 menjadi
161,01 pada tahun 2016.

)

rafik 6. Indeks Produksi Peternakan Tahun 2012 - 2016 (2010 = 100)
Graph 6 Production Indices
Of Estate Crops
in 2012 - 2016 (2010
= 100
Grafik 5. Indeks Produksi
Peternakan Tahun 2012 - 2016 (2010 =
100)
Graph 5 Production Indices
Of Estate Crops
in 2012 - 2016 (2010
= 100)
2.7.5 Perikanan
Pada
tahun 2015, indeks produksi perikanan
di Lamongan adalah 154,69 meningkat sebesar
2,48 poin dibandingkan pada tahun 2014
yang sebesar 152,21. Hal ini disebabkan oleh peningkatan indeks produksi perikanan budidaya ataupun
perikanan tangkap masing-masing sebesar
6,24 dan 4,57 poin. Hampir
semua jenis perikanan budidaya telah mengalami kenaikan indeks produksi terkecuali ikan karamba. Jenis perikanan budidaya yang mengalami peningkatan paling pesat adalah budidaya laut, yaitu sebesar 32,41 poin dari 257,06 pada tahun 2014 menjadi 289,47 pada tahun 2015.
Indeks
produksi perikanan tangkap pada tahun 2015 mengalami
peningkatan baik pada perikanan tangkap di laut maupun di perairan umum. Dari dua jenis tersebut,
peningkatan indeks produksi terbesar
terjadi pada perikanan tangkap diperairan umum, yakni sebesar 7,20 poin dari
129,79 pada tahun 2014 menjadi 136,99 pada tahun 2015. Hampir semua
jenis perikanan tangkap di dua jenis
perairan ini telah mengalami peningkatan indeks produksi kecuali tanaman
air yang termasuk jenis perikanan
tangkap di laut dan binatang berkulit keras serta
binatang air lainnya
yang termasuk dalam
jenis perikanan tangkap di perairan umum.
2.7.7 Kehutanan
Indeks produksi kehutanan telah mengalami kenaikan sebesar 8,71 poin dari tahun 2015 yang sebesar
61,16 menjadi 69,86
pada tahun 2016. Indeks produksi kehutanan menghitung dari indeks produksi kayu
bulat dan kayu bakar yang berasal dari hutan alam dan hutan budidaya.
2.7.8 Kontribusi
Sektor Pertanian.
Pada tahun 2015,
indeks berantai produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian atas dasar harga konstan menunjukkan penurunan sebesar 0,47 poin dibanding tahun 2014. Demikian juga, pada tahun 2016, indeks berantai PDB sektor pertanian atas dasar harga konstan kembali menurun sebesar 0,51 poin
dari 103,77 di tahun 2015 menjadi 103,25 pada tahun 2016. Ada tahun 2015, persentase kontribusi dari sektor
pertanian terhadap produk domestik
bruto mengalami peningkatan 0,15 persen dibandingkan
tahun 2014. Namun, pada tahun 2016,
sumbangan sektor pertanian terhadap
total PDB indonesia mengalami penurunan 0,04 persen dari 13,49 persen pada tahun 2015 menjadi 13,45
persen di tahun 2016.

Grafik 8. Kontribusi
Pertanian terhadap PDB Tahun 2012 - 2016 (%)
Graph 8 Contribution of
Agriculture to GDP in 2012 - 2016 (%)
2.8 Permasalahan Utama Kondisi Ekonomi
Daerah Dan Solusinya.
2.8.1 Laju Inflasi
Inflasi Merupakan kenaikan harga
barang‐barang secara umum. Laju inflasi
yang tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat,
terutama oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu,
tingginya laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya tingkat
distribusi pendapatan di masyarakat. Inflasi yang tinggi, berpotensi juga
menghambat investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat ketidakpastian
(mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga. Secara makro, dalam
jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Inflasi di Kabupaten Lamongan
relative belum stabil. Pada tahun 2011 dan 2012 berada pada kisaran 3%, namun
pada tahun 2013 dan 2014 naik pada kisaran 7% dan turun tajam pada tahun 2015
menjadi 1,96%. Selanjutnya pada tahun 2016 kembali turun di kisaran 1.52% masih
dibawah Propinsi Jawa Timur (2.74%) maupun Nasional (3.02%). Penurunan angka
inflasi tersebut sangat dipengaruhi rendahnya inflasi di komoditas bahan
makanan, pendidikan, rekreasi, olahraga, perumahan, air, listrik dan bbm,
makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Grafik Perkembangan Inflasi di
Kabupaten Lamongan sebagai berikut :

Inflasi Kabupaten
Lamongan Tahun 20112016

Sumber: BPS Kabupaten Lamongan 2017
Solusinya:
Kenaikan
harga memang tidak bisa diduga karena terjadi secara alamiah dari sektor
ekonomi baik dari tingginya kurs uang dolar sampai iklimpun dapat sebagai
penunjang inflasi. Solusi yang ditawarkan penulis terhadap terjadinya inflasi
yang selalu terjadi naik turun di daerah Kabupaten Lamongan :
Dari
pernyataan pemerintah juga dapat dikatakan dengan meningkatkan hasil produksi,
mempermudah masuknya barang impor, menstabilkan pendapatan masyarakat (tingkat
upah), menetapkan harga maksimum, serta melakukan pengawasan dan distribusi
barang.
Penulis
mengambil Kebjakan Fiskal dan Kebijakan Moneter untuk mengatasi Inflasi cara mengatasi inflasi oleh
pemerintah juga dapat dengan meningkatkan hasil produksi, mempermudah masuknya
barang impor, menstabilkan pendapatan masyarakat (tingkat upah), menetapkan
harga maksimum, serta melakukan pengawasan dan distribusi barang.
Menurut
teori moneter klasik, inflasi terjadi bila peningkatan jumlah uang yang
beredar. kemudian Bank Indonesia bisa membuat berbagai kebijakan moneter dalam rangka mengurangi peredaran
uang. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat berupa penetapan
persediaan kas, politik diskonto, dan operasi pasar terbuka.
KESIMPULAN
Kabupaten
Lamongan sejatinya memiliki laju sektor perekonomian yang sangat pesat dan
berpeluang menjadi Kabupaten yang paling subur dalam pendapatan nasional maupun
pembangunan ekonominya. Potensi suatu daerah akan terlihat jika kesejahteraan
atau pemenuhan saksi dikependudukan tersebut mengalami keharmonisan terhadap
kinerja pemerintah Kabupaten Lamongan. Lamongan saat ini terdapat potensi
unggul sebagai penggerak ekonomi bangsa yakni terdiri dari sektor pertanian
yang luas dan besar, Pariwisata yang banyk sebagai kawasan peminat pengunjung,
baik oenduduk WNI ataupun para turis yang berdatangan untuk berlibur.
Mendapat
penanganan yang tepat akan membuat Kabupaten Lamongan ini semakin unggul
pemimpin pembangunan ekonomi yang ada di iondonesia, Namn faktanya Lamongan
telah mengalami kesulitan dalam menangani berbagai masalah perekonomian yang
salah satunya dari persoalan Inflasi yangtidak stabil di wilayah ini,
dikarenakan cuaca di Kabupaten Lamongan sangat sering terjadi perubahan iklim
yang merata, menekan adanya penanganan bisa melihat dengan mengatasi persoalan
lain seperti kependudukan dan angka kemiskinan di Kabupaten Lamongan yang dalam
data dipaparkan mengalami penurunan angka kemiskinan dari tahun ketahun. Itu
sebagai pernyataan data kongkrit untuk menyatakan Daerah Kabupaten Lamongan
adalah salah satu daerah yang dapat engatasi angka kemiskinan dengan baik, bisa
dikatakan efektif dan efisen bijak dalam mengatasi sebuah masalah yang terjadi
di daerahnya sendiri.
SARAN
Ø Bagi penulis yang akan menganalisis Gambaran umum, PDRB
dan perkapita, Struktur ekonomi, pertumbuhan, distribusi dan kemiskinan disuatu
daerah, Pembangunan ekonomi, Sektor pertanian, Permasalahan utama kondisi
ekonomi daerah dan solusinya. Harus lebih mendalam tentang data yang akan
disampaikan
Ø
Penulis
berharap makalah ini di jdikan rujukan pembelajaran analisis daerah Kabupaten
Lamongan
Ø
Bagi
pembaca makalah ,supaya mengambil manfaat dan merevisi yang kurang lengkap
Ø
Dosen
Memaklumi kekurangan si pembuat makalah.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Sumber: BPS Kabupaten Lamongan (data diolah, 2018)
Badan pusat statistik Provinsi Jawa Timur
BPS Kabupaten Lamongan Dalam Angka 2018
BPS Kabupaten Lamongan.
Pertumbuhan dan Kemiskinan tahun 2013-2017
Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 14 Tahun 2017 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Kabupaten Lamongan Tahun 2016 – 2021.
Nuraini, Ida (2017). Kualitas
Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota Di Jawa Timur. Fakultas Ekonomi
Dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
i






Komentar
Posting Komentar