Analisis Perekonomian Daerah "Kabupaten Lamongan"



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak bangsa-bangsa, karena itu disebut negara maritim. Salah satunya yakni daerah yang dikenal dengan kota Soto yakni daerah Kabupaten Lamongan. Dipimpin oleh bupati yang bernama H. Fadeli untuk mengawal alur laju daerah, baik dalam sektor perekonomian, industri, pertanian dan kependudukan.
Proses perubahan struktur perekonomian ditandai dengan menurunnya pangsa sektor primer (pertanian), meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri), dan pangsa sektor tersier (jasa) juga memberikan kontribusi yang meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi (Todaro, 1999). Pebangunan nasional dikatan atau disebut buah dari pembangunan ekonomi, dapat menentukan salah satu bentuk atau gambaran suatu daerah di berbagai daerah, Khusunya Kabupaten Lamongan yang menjadi faktor pembangunan nasonal adalah prilaku perekonomian yng terdapat di kabupaten ini yang fokus kepada sektor pertanian.
Pengembangan pada daerah di sesuaikan oleh pemerintah daerah itu sendiri dengan potensi yang ada digunakan sebgai ciri khas dari daerahnya. Pertumbuhan ekonomi di daerah Kabupaten lamongan dalam 5 tahun terakhir (2013-2017) mengalami perubahan fluktuasi dari tahun ketahun. Dan dalam pengembangan SDA/SDM di kabupaten lamongan dapat  digunakan sebagai kesempatan yang baik bagi pemerintahan daerah lamngan untuk mensejahterakan perekonomian masyarakat dengan cara memeratakan pendistribusian pendapatan daerah daerah dan memperbaiki infrastruktur yang di kabupaten lamongan. Kabupaen lamongan adalah salah satu kabupaten di provinsi JATIM (jawa timur).
Data yang ada menyebutkan Dalam kurun waktu 2012 - 2016, indeks produksi tanaman pangan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Indeks produksi tanaman pangan tahun sebesar 113,10 atau meningkat 5,69 poin dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan indeks produksi ini terjadi baik pada komoditas padi maupun palawija secara umum. Untuk itu penulis melakukan beberapa analisis yang akan menjelaskan tentang kabupaten Lamongan.



B.     Tujuan Penelitian.

1.)    Untuk Mengetahui tentang Gambaran umum Kabupaten Lamongan.
2.)    Untuk Mengetahui tentang Analisis PDRB dan Pendapatan Perkapita.
3.)    Untuk Mengetahui tentang Perubahan Struktur Ekonomi Daerah.
4.)    Untuk Mengetahui tentang Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
5.)    Untuk Mengetahui tentang Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan.
6.)    Untuk Mengetahui tentang Pembangunan Ekonomi Daerah.
7.)    Untuk Mengetahui tentang Perkembangan Sektor pertanian.
8.)    Untuk Mengetahui tentang Permasalahan utama kondisi ekonomi daerah dan solusinya.
C.    Manfaat Penelitian.
1.      Manfaat Teoritis.
Hasil Analisis di makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia kampus pendidikan khususnya di jurusan Manajamen Uin Maulana Malik Ibrahim Malang, dan diharapkan sebagai pusat refrensi yang dapat membantu meringankan beban proses pembuatan penuisan pembaca.
2.      Manfaat Praktis.
Hasil Analisis ini diharapkan dapat dijangkau semua pihak yang terkait dalam penelitian ini, diantaranya sebagai masukan bagi pihak kawan mahasiswa dan dosen terutama dalam proses pengembangan diri, dan Agar dapat sebagai rujukan pegembangan ilmu teknologi pendidikan sesuai dengan kurikulum kampus.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Umum Objek Analisis.

PETA WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN
MAP OF LAMONGAN REGENCY


 

















Lamongan merupakan dataran rendah dan bonorowo dengan memiliki tingkat ketinggian 0-25 meter seluas 50,17%, sedangkan ketinggian 25-100 meter seluas 45,68%, selebihnya 4,15% berketinggian di atas 100 meter di atasopermukaan air laut, 6º 51’ 54’’ sampai dengan 7º23’6’’ lintang selatan dan antara 112º 4’41’’ sampai dengan 112º 33’12’’ bujur timur. Daerah Kabupaten Lamongan ini memiliki luas wilayah kurang    lebih    1.812,8 km2 atau  +3.78%  dari luas wilayah seluruh  Provinsi Jawa Timur. Dengan panjang garis pantai sepanjang 47 km, maka wilayah perairan laut Kabupaten Lamongan adalah seluas 902,4 km2, apabila dihitung 12 mil dari permukaan laut.
Kabupaten Lamongan terdiri dari 27 kecamatan yang terbagi menjadi 3 karakteristik daratan berdasarkan aliran sungai bengawan solo yaitu bagian tengah selatan merupakan daratan rendah yang relatif sedikit subur yang membentang dari Kecamatan Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan, Deket, Tikung, Sugio, Maduran, Sarirejo, dan Kembangbahu, kemudian bagian utara dan selatan yang merupakan pegunungan kapur berbatu-batu dengan kesuburan sedang meliputi Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan Solokuro serta bagian tengah utara yang merupakan daerah rawan banjir meliputi Kecamatan Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Karangbinangun, dan Glagah Data Dinas PU Sumber Daya Air mencatat rata-rata curah hujan Tahun 2017 di Kabupaten Lamongan adalah sebesar 1.634 mm per tahun dengan jumlah hari hujan sebanyak 201 hari, dengan rata-rata curah hujan selama sepuluh  tahun terakhir sebesar 1.667 mm pertahun.
2.1.2    Letak dan Kondisi Geografis
Posisi Secara geografis, Kabupaten Lamongan memiliki letak yang sangat strategis, karena berada pada jalur Pantai Utara yang menghubungkan kabupaten/kota di wilayah Utara Jawa Timur. Kabupaten Lamongan berada di dalam perlintasan jalur arteri primer Surabaya-Lamongan-Tuban hingga Jawa Tengah dan jalan provinsi Mojokerto-Lamongan. Ibukota Kabupaten Lamongan berjarak 44,8 km dari Surabaya, Ibukota Provinsi Jawa Timur.Kabupaten Lamongan terletak pada 6º 51’ 54” sampai dengan 7º 23’ 6” Lintang Selatan dan diantara garis bujur timur 112° 4’ 41” sampai 112° 33’ 12” bujur timur.
Kondisi Wilayah Kawasan Kabupaten Lamongan dibelah oleh Sungai Bengawan Solo, dan secara garis besar daratannya dibedakan menjadi tiga karakteristik yaitu :
·         Bagian Tengah Selatan adalah dataran rendah yang relatif subur yang  membentang dihitung dari Kecamatan Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan,Deket, Tikung Sugio, Maduran, Sarirejo dan Kembangbahu
·         Bagian Selatan dan Utara adalah pegunungan kapur berbatu–batu dengan kesuburan sedang. Kawasan ini terdiri dari Kecamatan Mantup, Sambeng, Ngimbang, Bluluk, Sukorame, Modo, Brondong, Paciran, dan Solokoro
·         Bagian Tengah Utara adalah daerah Bonorowo yang merupakan daerah rawan banjir. Kawasan ini meliputi Kecamatan Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Karangbinangun dan Glagah.

2.1.2.3  Kondisi Topografi
Kabupaten Lamongan dapat dilihat dari ketinggian wilayah di atas permukaan laut dan kelerengan lahan. Daerah Kabupaten Lamongan terdiri dari dataran rendah dan berawa dengan ketinggian 0 -20 m dengan luas 50,17% dari luas Kabupaten Lamongan, daratan ketinggian 25-100 m seluas 45,68% dan sisanya yakni berjumlah 4,15% merupakan daratan dengan ketinggian di atas 100 m.

Tabel 1 : Presentase luas wilayah menurut kecamatan di Kabupaten Lamongan, 2017
Precentage of Total Area by Subdistrict In Lamongan Regency,2017














Terdapat banyak sekali perbedaan luas di berbagai Kecamatan yang ada di daerah Kabupaten Lamongan sekitar 27 tercatat terdata di Presentase Wilayah menrurut kecamatan yang ada di Kabupaten di Lamongan pada tahun 2017. Dilanjutkan menganalisis rata rata curah hujan yang ada di berbagai kecamatan. Ada yang wilayah kecamatnnya sering diguyur air hujan dan ada yang wilyah kecamatannya sedikit di guyur curah hujan.

Rata-rata curah hujan menurut stasion Pengamatan di Kabupaten Lamongan, 2017 Average of Precipitation by Observation Station in Lamongan Regency, 2017
Tabel 2










Dari data grafik pernyataan rata-rata curah hujan diatas bahwa di daerah kabupaten lamongan mengalami kenaikan pada tahun 2013-2016 dan juga mengalami penurunan pada tahun selanjutnya yakni pada tahun 2017.
Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Lamongan, 2017
    Total Area by The Subdistrict in Lamongan Regency, 2017
Tabel 3
Kecamatan
Subdistrict
Luas/Area (km2)
Persentase
Percentage
(1)
(2)
(3)
1.   Sukorame
4 147
2
2.   Bluluk
5 415
3
3.   Ngimbang
                     11 433
6
4.   Sambeng
                     19 544
11
5.   Mantup
9 307
5
6.   Kembangbahu
6 384
4
7.   Sugio
9 129
5
8.   Kedungpring
8 443
5
9.   Modo
7 780
4
10. Babat
6 295
3
11. Pucuk
4 484
2
12. Sukodadi
5 232
3
13. Lamongan
4 038
2
14. Tikung
5 299
3
15. Sarirejo
4 739
3
16. Deket
5 005
3
17. Glagah
4 052
2
18. Karangbinangun
5 288
3
19. Turi
5 869
3
20. Kalitengah
4 335
2
21. Karanggeneng
5 132
3
22. Sekaran
4 965
3
23. Maduran
3 015
2
24. Laren
9 600
5
25. Solokuro
 10 102
6
26. Paciran
4 789
3
27. Brondong
7 459
4
Lamongan
181 280
100
Sumber: Badan Pertanahan Kabupaten Lamongan
Source: Land Agency of Lamongan Regency
Geologi Secara fisiografis wilayah Kabupaten Lamongan bagian utara dan selatan termasuk dalam Zone Rembang (van Bemmelen, 1949) yang disusun oleh endapan paparan yang kaya akan unsur karbonatan, sedangkan wilayah bagian tengah termasuk zone Randu blatung yang kenampakan permukaannya merupakan dataran rendah, namun sebetulnya merupakan suatu depresi (cekungan) yang tertutup oleh endapan hasil pelapukan dan erosi dari batuan yang lebih tua pada Zone Kendeng dan Rembang.
Sejarah geologi Kabupaten Lamongan diperkirakan dimulai kurang lebih 37 juta tahun yang lalu (Kala Oligosen). Saat itu wilayah Kabupaten Lamongan masih berupa lautan(bagian dari Cekungan Jawa Timur).Selanjutnya terjadi proses sedimentasi secara berurutan ke atas berupa penghamparan batuan sedimentasi laut yang kaya unsur karbonatan. Proses ini berlangsung hingga kurang lebih 19 juta tahun(hingga Kala Polisen). Pada kurang lebih 1,8 juta tahun yang lalu terjadi aktifitas tektonik.
Adapun jenis batuan yang telah dijumapi di Kabupaten Lamongan dan dapat dikelompokkan yakni:
·         Satuan Batu Lanau dengan sisipan batu gamping pasiran dan batu lempung.
·         Satuan Batu Pasir Tufan ciri dengan sisipan konglomerat, breksi dan bantu lempung.
·         Satuan Batu Lempung dengan sisipan batu paser gampingan dan batu gamping.
·         Satuan Batu Gamping koral dan klasik ciri sisipan napal dan batu lempung.
2.1.2.4 Hidrologi

Secara umum keberadaan air di Daerah Kabupaten Lamongan didominasi oleh air permukaan, yang pada saat musim penghujan dijumpai dalam jumlah yang cukup melimpah hingga mengakibatkan banjir, namun sebaliknya pada saat musim kemarau tiba disebagian besar wilayah Kabupaten Lamongan relatif berkurang.
Ketersediaan air permukaan ini sebagian tertampung di waduk-waduk, rawa, embung dan sebagian lagi mengalir melalui sungai-sungai. Kabupaten Lamongan dilewati oleh 3 buah sungai besar, yakni Sungai Bengawan Solo sepanjang ± 68 Km dengan debit rata – rata 531,61 m3/bulan (debit maksimum 1.758,46 m3 dan debit minimum 19,58 m3) yang bermata air di Waduk Gajah Mungkur (Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah), Kali Blawi sepanjang ± 27 Km dan Kali Lamong sepanjang ± 65 Km yang bermata air di Daerah Kabupaten Lamongan. Selain dialiri oleh ketiga sungai besar tersebut, yakni kondisi hidrologi ditentukan oleh terdapatnya telaga dan mata air yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan air bersih dan sarana rekreasi masyarakat.
2.1.2.5 Klimatologi
Aspek klimatologi yakni ditinjau dari kondisi suhu dan curah hujan. Kondisi iklim di Kabupaten Lamongan adalah iklim tropis yang dibedakan atas 2 (dua) musim, yakni musim penghujan dan musim kemarau. Curah hujan di Kabupaten Lamongan tahun 2014 terbilang cukup tinggi. Telah tercatat rata-rata curah hujan yang diperoleh dari 25 stasiun pengamatan yang ada di Kabupaten Lamongan yaitu sebanyak 1.702 mm dengan rata-rata curah hujan paling banyak terjadi pada bulan Desember 2014 yaitu sebanyak 312 mm data yang telah dipaparkan yakni data yang telah terpercaya dalam sensus yang telah dilakukan Peerintah Daerah Kabupaten Lamongan.
2.2              Analisis PDRB dan Pendapatan Perkapita.

Tabel 4 Produk Domestik Regional Bruto dan PDRB Perkapita
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017




U r a i a n


2013


2014


2015


2016*


2017**













(1)


(2)

(3)

(4)

(5)

(6)



















Nilai PDRB (Miliar Rp)





























- ADHB

23 012,34

25 704,52

28 746,24

31 707,26

34 370,51















- ADHK 2010

19 848,84

21 099,94

22 316,88

23 623,79

24 927,95



















PDRB perkapita (Ribu Rp)





























- ADHB

19 397,07

21 653,49

24 201,35

26 685,28

28 919,77















- ADHK 2010

16 730,56

17 774,59

18 788,49

19 882,12

20 974,68



















Pertumbuhan PDRB perkapita





























ADHK 2010 (%)

6,77

6,24

5,70

5,82

5,50



















Penduduk





























- Jumlah (000 org)

1 186,38

1 187,08

1 187,80

1 188,19

1 188,48















- Pertumbuhan (%)

0,15

0,06

0,06

0,03

0,02
















Keterangan : * sementara

**  sangat
sementara










Data ini menjelaskan nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan di suatu wilayah ekonomi domestik, yanki di mana di dalamnya terdapat masih terkandung nilai penyusutan. PDRhttps://lamongankabB dapat digunakan sebagai ukuran “produktivitas”,karena menjelaskan kemampuan wilayah dan menghasilkan produk domestik, yang akan dihitung melalui 3 (tiga)   pendekatan, yaitu pendekatan nilai tambah, pengeluaran, dan pendapatan.
Tabel diatas. Telah Menunjukkan peningkatan PDRB per-kapita Daerah Kabupaten Lamongan dari tahun ke tahun yang seiring dengan kenaikan jumlah komposisi penduduk. Faktor ini menunjukkan bahwa secara ekonomi setiap penduduk Lamongan rata-rata mampu menciptakan PDRB atau (nilai tambah) sebesar nilai perkapita di masing-masing tahun tersebut.
Sementara itu, pertumbuhan per-kapita secara “riil” juga selalu meningkat pada kisaran 5 sampai 6 persen. Pertumbuhan tersebut diikuti pula oleh penambahan jumlah penduduk, yang meningkat rata-rata 0,06 persen setiap tahunnya. Dengan demikian maka pertumbuhan per-kapita tersebut tidak saja terjadi secara “riil” tetapi juga terjadi secara kualitas.
Apabila dilihat dalam perkembangan kontribusi pada masing-masing kategori dari tahun ke tahun terhadap total PDRB pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan peran dan selalu menjadi penyumbang utama dalam pembentukan PDRB, dan demikian pula pada kategori Perdaganan besar dan eceran; reparasi  mobil dan sepeda motor. pada tahun ini kabupaten lamongan telah banyak investor yang akan berdatangan di daerah lamongan. Dengan adanya investor yang masuk di industri kabupaten lamongan dapat mendongkrak perekonomian daerah yang mulai meningkat dengan baik.
Banyaknya pabrik industri pengolahan di kawasan lamongan harus Peranan lapangan usaha terhadap PDRB  Kabupaten lamongan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan memajukan prekonomian daerah untuk bisa bersaing dengan daerah lainya dan dapat mengurangi adanya pengangguran. Sehingga dengan adanya kebijakan pemirintah daerah untuk membuka lahan lapangan industri maupun membuka para investor untun berinvestasi di daerah lamongan agar tidak terjadi adanya ketimpangan di daerah lamongan khususnya di daerah selatan Lamongan, pemerintah daerah merencanakan adanya pabrik bebas polutan di daerah tersebut.
2.3 Perubahan Struktur Ekonomi Daerah.

( Struktur ekonomi Lamongan. 2013 – 2017 )
Tabel 5.
37.28
















              Dilihat dari pernyataan data diatas dapat dikatakan lamongan sejak tahun 2008  sampai 2017 mengalami tingkat Pertanian, kehutanan dan perikanan yang sangat tinggi yakni mencapai 37,23 dibandingkan  data yang lain, menyatakan Perdaganan besar dan eceran; reparasi  mobil dan sepeda motor, 17,09-19,08 Kontruksi11,42-12,2, Industri pengolahan 8,18, Informasi dan komunikasi posisi paling rendah presentasenya dengan 6,44 dapat disimpulkan bahwa terjadi  struktur ekonomi yang memihak sektor Pertanian, kehutanan, dan perikanan.
2.4 Analisis Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
        Pengembangan pada daerah di sesuaikan oleh pemerintah daerah dengan potensi yang ada digunakan sebagai ciri khas dari daerahnya. Pertumbuhan ekonomi di daerah Kabupaten lamongan dalam 5 tahun terakhir (2013-2017) mengalami perubahan fluktuasi dari tahun ketahun. Dan dalam pengembangan SDA/SDM di kabupaten lamongan dapat  digunakan sebagai kesempatan yang baik bagi pemerintahan daerah lamongan. Indonesia sendiri memiliki banyak potensi yang harus dikembangkan guna untuk perbaikan perekonomian yang ada di daerah Lamongan. Tahun 2013-2017 tercatat di sektor pertanian, kelautan dan juga pariwisata mengalami pariwisata mengalami kenaikan pesat  sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Lamongan dan juga memajukan dalam sektor infrastruktur , pada perindustrian, pada bidang pertanian sebagai bentu perbaikan perekonomian di Kabupaten Lamongan.

Tabel 6. Perbandingan konsumsi akhir rumah tangga terhadap Ekspor
Struktur Pengeluaran Konsumsi Akhir Rumah Tangga
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013- 2017











(Persen)













Kelompok Konsumsi
2013

2014

2015

2016*

2017**












(1)
(2)

(3)

(4)

(5)

(6)


a. Makanan, Minuman, dan Rokok
37,94

37,28

36,75

36,36

35,96














b. Pakaian dan Alas Kaki
3,71

3,62

3,53

3,53

3,56














c. Perumahan, Perkakas, Perlengkapan dan
10,19

10,22

10,30

10,25

10,27


Penyelenggaraan Rumah





























d. Kesehatan dan Pendidikan
7,11

7,13

7,66

7,70

7,72














e. Transportasi, Komunikasi, Rekreasi, dan
19,89

20,58

20,74

20,98

21,26


Budaya





























f. Hotel dan Restoran
15,37

15,05

14,88

14,89

14,84














g. Lainnya
5,79

6,12

6,15

6,30

6,38














Total Konsumsi
100,00

100,00

100,00

100,00

100,00













Keterangan : *  sementara           **  sangat sementar

Indikator ini menunjukkan perbandingan antara produk yang dikonsumsi RT di wilayah domestik dengan produk yang diekspor. Selama ini konsumsi rumah tangga mempunyai kontribusi yang sangat dominan dalam pengeluaran PDRB Lamongan (sekitar 70 persen), yang artinya bahwa seluruh produk yang dihasilkan di wilayah Lamongan sebagian besar digunakan untuk konsumsi akhir rumah tangga. Tetapi di dalamnya termasuk pula sebagian produk yang berasal dari impor
Data di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2013, produk yang digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebanyak 1,55 kali dari yang dieskpor. Berarti sebagian besar penyediaan (supply) domestik diserap untuk memenuhi permintaan konsumsi akhir rumah tangga. Selama periode 2013-2017, rasio perbandingan konsumsi rumah tangga terhadap ekspor menunjukan fluktuasi. Secara implisit data tersebut menjelaskan, bahwa walaupun nilai konsumsi akhir rumah tangga dan ekspor mengalami fluktuasi tetapi peningkatan nilai ekspor jauh lebih cepat. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh perubahan volume maupun harga. Selain itu, penurunan rasio tersebut juga disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

. Tabel 7. Perkembangan dan Struktur Perubahan Inventori

Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017


U r a i a n


2013


2014


2015


2016*


2017**













(1)


(2)

(3)

(4)

(5)

(6)


Total Nilai Inventori





























a. ADHB (Miliar Rp)

1,94

954,77

144,61

146,11

153,19


b. ADHK 2010 (Miliar Rp)

2,86

642,30

95,25

89,88

93,79


Proporsi terhadap PDRB ( % ADHB)

0,01

3,71

0,50

0,46

0,45










Keterangan : * sementara   ** sangat sement
ra














Berbeda dengan komponen pengeluaran lain yang bisa dianalisis agak rinci, perubahan inventori baru dapat dianalisis dari sisi proporsinya saja. Perbedaan pendekatan dan tata cara estimasi menyebabkan komponen inventori tidak banyak dikaji lebih. Hal utama dapat dilihat dari komponen ini adalah, proporsi dalam PDRB pada umumnya mempunyai besaran atau nilai yang berfluktuasi baik dalam level maupun di tandanya (positif /negatif).
Pada Tahun 2013 perubahan inventori sebesar 1,94 miliar rupiah, lalu pada  tahun 2014 perubahan inventori nilainya sebesar 954,77 miliar rupiah dan pada tahun berikutnya mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar 144,61 miliar rupiah (2015); 146,11 miliar rupiah (2016) dan 153,19 persen (2017). Sedang apabila dicermati proporsinya dalam PDRB, Total inventori  memiliki besaran yang berfluktuasi dari tahun 2013-2017. Pada tahun 2013 mempunyai porsi  0,01 persen di dalam PDRB dan di tahun berikutnya peranannya meningkat menjadi 3,71 persen. Lalu turun di tahun 2015 yang mempunyai porsi sebesar 0,50 persen dan tahun 2016 turun menjadi 0,46 persen dan terus mengalami penurunan menjadi 0,45 persen.
2.5 Analisis Distribusi pendapatan dan Kemiskinan (Termasuk Ketimpangan Antar   Kecamatan)
Tabel 8. Distribusi PDRB Menurut Pengeluaran,

Kabupaten Lamongan Tahun 2013-2017


Komponen Pengeluaran


2013


2014


2015



2016*


2017**


(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1.
Konsumsi Rumah Tangga

77,80

75,53

73,38
72,69

72,67

















2.
Konsumsi LNPRT

2,13

2,34

2,31

2,33

2,28

















3.
Konsumsi Pemerintah

8,93

8,35

8,03

7,54

7,36

















4.
PMTB

31,34

31,11

30,92

31,91

32,83

















5.
Perubahan Inventori

0,01

3,71

0,50

0,46

0,45

















6.
Ekspor Antar Daerah

50,35

50,70

47,59

48,16

51,41

















7.
Impor Antar Daerah

70,57

71,75

62,74

63,09

67,00


















Total PDRB

100,00

100,00

100,00

100,00

100,00


2.5.1 Perkembangan Impor Barang Dan Jasa

Aktivitas pengeluaran (konsumsi rumah tangga, LNPRT, dan pemerintah) maupun PMTB (termasuk inventori) dan ekspor, didalamnya terkandung produk

yang berasal dari impor. PDRB menggam arkan produk yang benar-benar dihasilkan oleh https://lamongankabekonomidomestikLamong. Sehingga untuk mengukur potensi dan besaran produk domestik, yakni komponen impor tersebut harus dikeluarkan dari penghitungan yaitu dengan cara mengurangkan nilai PDRB (e) dengan nilai impornya. Hasil pengurangan kemudian yang secara konsep harus sama dengan nilai PDRB menurut lapangan usaha (sektor).

Berbeda dengan komponen ekspor, transaksi impor ini menjelaskan ada tambah penyediaan (supply) dan produk di wilayah ekonomi domestik yang berasal dari dari non residen.
Tabel 9. Perkembangan Impor Barang dan Jasa
Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017


U r a i a n


2013


2014


2015


2016*


2017**













(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)


Total Nilai Impor

















a. ADHB (Miliar Rp)

16.239,40
18.441,77

18.034,92
20.004,34

23.028,78

b. ADHK 2010 (Miliar Rp)

14.034,05
15.137,62

15.024,38
16.032,96

17.584,89

Pertumbuhan Nilai Impor (%)

8,90
7,86

(0,75)
6,71

9,68

Keterangan : * sementara   **

sangat sementara











Tabel di atas telah menunjukkan pola perkembangan impor di daerah Lamongan pada periode tahun 2013 sampai dengan 2014 yang selalu meningkat (baik adh Berlaku maupun adh Konstan 2010), a tetapi tahun 2015 menurun dan meningkat lagi tahun 2016 dan 2017. Pada tahun 2014, nilai impor mengalami peningkatan nilai mencapai 18.441,77 miliar rupiah dibanding tahun 2013 yang hanya sebesar 16.239,40 miliar. Pada tahun berikutnya nilai impor mengalami penurunan dari 18.441,77 miliar rupiah ( 2014) menjadi 18.034,92 miliar rupiah (2015), kemudian meningkat menjadi 20.004,34 miliar rup ah (2016) dan 23.028,78 miliar rupiah (2017).



BIRU= Jawa Timur
Merah=Kabupaten Lamongan
Pengangguran dalam Jawa Timur mengalami ketidakstabilan, dan pernah mengalami masa yang sangat tinggi tingkat penganggurannya pada tahun 2005 dan terus mengalami menurunan kemiskinan sampai 2017, yakni tahun yang tingkat kemiskinannya sudah teratasi.
Begitupula kabupaten lamongan yang mengalami naik turunnya sebuah tingkat kemiskinan pada tahun 2002 naik ke 2003 lalu melonjak angka pada tahun 2008 dan teratasi di tahun sesudahnya 2010 dan signifikan ke angkat tahun 2007 yang sama diartkan berkurangnya angka emiskinannya. Dibawah grafik yang menyatakan kemunduran angka kemiskinan di kabupaten lamongan.

2.5.2 Kemiskinan di daerah kabupaten Lamongan.
192.00











2013                2014`                          2015                            2016                2017
Tabel 10. Pertumbuhan PDRB Menurut Pengeluaran,



Kabupaten Lamongan Tahun 2013-2017


















Komponen Pengeluaran


2013


2014


2015



2016*


2017**

(1)

(3)

(4)

(5)


(6)

(7)

Konsumsi Rumah Tangga

7,00

4,84

5,08


5,33

5,08












Konsumsi LNPRT

13,64

22,02

1,41


6,75

2,86











Konsumsi Pemerintah

6,91

2,93

2,63


(2,08)
3,10












PMTB

7,39

2,65

6,33


7,66

6,79











Perubahan Inventori

1.218,88

22.381,61

(85,17)


(5,64)
4,35












Ekspor Antar Daerah

8,94

6,58

3,43


7,84

11,20












Impor Antar Daerah

8,90

7,86

(0,75)


6,71

9,68












Total PDRB

6,93

6,30

5,77


5,86

5,52
Keterangan : *  sementara

** sangat sementara






























            Pertumbuhan riil PDRB atau lebih dikenal dengan pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan agregat makro lain yang dapat diturunkan dari data PDRB, yang menggambarkan kinerja pada pembangunan di bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Lamongan dari tahun 2013 sampai 2017 secara rata-rata mencapai 6,36 persen, masing-masing pertumbuhan sebesar 6,93 persen (2013) 6,30 persen (2014) 5,77 persen (2015) 5,86 persen (2016) dan 5,52 (2017). Pertumbuhan paling tertinggi terjadi di tahun 2013 yakni sebesar 6,93 persen, sebaliknya yang terendah terjadi pada tahun 2017 sebesar (5,52 persen).

Tabel 11. Pertumbuhan Riil Pengeluaran Konsumsi Akhir Rumah Tangga


Kabupaten Lamongan, Tahun 2013-2017























(Persen)

Kelompok Konsumsi


2013


2014


2015


2016*


2017**































(1)


(2)


(3)

(4)

(5)

(6)


a. Makanan, Minuman, dan

6,48


5,13

3,38

3,65

3,86


Rokok









































b. Pakaian dan Alas Kaki

4,90


4,89

4,72

4,25

4,67




















c. Perumahan, Perkakas,

















Perlengkapan dan

8,98


3,03

7,70

6,27

5,76


Penyelenggaraan Rumah

















d. Kesehatan dan Pendidikan

5,61


6,94

7,06

5,44

4,54




















e. Transportasi, Komunikasi,

11,08


6,29

7,47

7,21

6,94


Rekreasi, dan Budaya







































f. Hotel dan Restoran

3,40


1,40

3,03

5,66

4,64

















g. Lainnya


5,37


7,49

5,62

7,07

6,38


















Keterangan : *  sementara
** sangat sementara












Dilihat dari pertumbuhan “ riil ” nya, pengeluaran rumah tangga di kelompok makanan telah mengalami perlambatan dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 6,48 persen (2013) ; 5,13 persen (2014) ; 3,38 persen (2015) ;3,65 persen (2016) dan 3,86 persen (2017). Demikian pula di kelompok konsumsi Pakaian dan Alas Kaki; Kesehatan dan Pendidikan, Lainnya juga mengalami perlambatan sepanjang tahun. Sedangkan kelompok konsumsi lain mengalami besaran pertumbuhan yang fluktuatif. Di antara seluruh kelompok konsumsi, mengalami pertumbuhan tertinggi selama l ma tahun terakhir yakni Transportasi, Komunikasi, Rekreasi dan Budaya yang tumbuh 11,08 persen di tahun 2013, sedang pertumbuhan terendah yakni Hotel dan Restoran pada tahun 2014 tumbuh sebesar 1,40 persen.
Tabel 12. Persentase Penduduk Miskin Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Sektor Bekerja, Tahun 2017




Dalam analisis pada tabel tersebut diterangkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah lamongan pada usia 15 tahun keatas yakni 36,96 lebih sedikit dibandingkan dua daerah yaitu: tuban sekitar 40,94 Dan gresik yang mencapai 48,00

2.6 Analisis Pembangunan Ekonomi Daerah di Kabupaten Lamongan.
Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Lamongan harus disahkan paling lambat 16 Agustus 2016. Penegasan diungkapkan, Kabid Statistik dan Pelaporan Bappeda Propinsi Jawa Timur Teguh Prayitno dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Penyusunan RPJMD Kabupaten Lamongan Tahun 2016-2021 di Pendopo Lokatantra, Selasa (19/7/2016).
Terkait RPJMD Lamongan, pemkab telah mengapresiasi pencapaian beberapa indikator kinerja Kabupaten Lamongan yang bisa melampaui Propinsi Jawa Timur bahkan Nasional. Diungkapakan, pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan mencapai 6,12 persen pada angka sementara. Angka itu melebihi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berada di angka 5,44 persen dan nasional yang sebesar 4,79 persen. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Lamongan yang berada di angka 4,10 persen menurut Teguh Prayitno juga jauh lebih rendah dibanding Jawa Timur yang 4,47% persen dan Nasional yang 6,18 persen.
“Visi RPJMD Kabupaten Lamongan tahun 2016-2021 yakni Terwujudnya Lamongan Lebih Sejahtera dan Berdaya Saing yang ditempuh dengan lima misi. Pertumbuhan ekonomi hingga lima tahun mendatang berada pada kisaran 5,5 - 6,5%, PDRB per kapita di akhir tahun 2021 mencapai Rp. 42,90 juta, IPM dipasang mencapai 71 di akhir tahun 2021, tingkat kemiskinan telah turun menjadi 12,91 persen dan Opini BPK menjadi WTP, “ terang Fadeli. (Bupati lamongan)
“Tujuannya adalah untuk menyelaraskan strategi serta sinkronisasi program prioritas kabupaten, Propinsi Jawa Timur dan Nasional. Diharapkan setelah Musrenbang RPJMD ini akan dihasilkan rancangan akhir RPJMD Tahun 2016-2021, “
2.7 Analisis  Perkembangan Sektor Pertanian.
2.7.1 Tanaman Pangan
Dalam kurun waktu 2012 - 2016, indeks produksi tanaman pangan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Indeks produksi tanaman pangan sebesar 113,10 atau meningkat 5,69 poin dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan indeks produksi terjadi baik pada komoditas padi maupun palawija secara umumnya.



Pada tahun 2016, komoditas padi sawah dan padang ladang telah mengalami kenaikan indeks produksi. Komoditas palawija yang mengalami peningkatan indeks produksi hanya terjadi pada jagung sedangkan kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar itu mengalami penurunan.
Tabel 13.
Grafik 1. Indeks Produksi Pertanian Tahun 2012 - 2016 (2010 =  100)
Graph 1. Production Indices Of Agriculture in 2012 - 2016 (2010 = 100)
2.7.2 Tanaman Hortikultura
Pada tahun 2016, indeks produksi horti kultural naik sebesar 1,52 poin dibanding tahun 2015, yaitu dari 121,10 menjadi 122,62. Indeks produksi buah-buahan mengalami  turun sebesar 3,36 poin sedangkan indeks produksi sayur-sayuran naik sebesar 5,01 poin. Dari kelompok buah-buahan, sebagian besar komoditas mengalami penurunan indeks produksi terkecuali apel, jambu biji, jeruk keprok, pepaya mengalami peningkatan indeks produksi. Dari kelompok sayur-sayuran, komoditas mengalami peningkatan indeks produksi, kecuali buncis, kacang merah, kacang panjang, kangkung, kentang, ketimun, lobak, melinjo, petai, dan terung yang mengalami penurunan indeks produksi. Tabel 14.



Grafik 3. Indeks Produksi Tanaman Hortikultura Tahun 2012 - 2016 (2010 = 100)
Graph 3. Production Indices Of Horticulture in 2012 - 2016 (2010 = 100)
2.7.3 Tanaman Perkebunan



Pada tahun 2016, indeks produksi perkebunan meningkat dari 120,94 menjadi 125,39 atau naik sebesar 4,45  poin dari tahun 2015. Secara umum,  indeks produksi perkebunan rakyat meningkat, tetapi terjadi penurunan indeks perkebunan sebesar 4,32  poin terdapat dari 133,61 poin pada tahun 2015 dan menjadi 129,29 poin di  tahun 2016. Berdasarkan komoditas, peningkatan indeks produksi terjadi itu pada komoditas karet dan tembakau, sementara komoditas kelapa, kelapa sawit, kopi, teh, tebu dan cengkeh mengalami penurunan indeks produksi. Tabel 15.

Grafik 4. Indeks Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2012 - 2016 (2010 = 100)

Graph 4 Production Indices Of Estate Crops in 2012 - 2016 (2010 = 100)
2.7.4  Peternakan
Seiring Indeks   produksi    peternakan dari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan. Pada tahun 2016, indeks produksi peternakan adalah sebesar 135,07 atau peningkatan sebesar 7,82 poin. Dari indeks tahun 2015 sebesar 127,25. Peningkatan nilai indeks terjadi di tahun 2016 adalah yang paling besar selama lima tahun terakhir. Peningkatan indeks produksi pada tahun 2016 juga diikuti dengan peningkatan indeks pada tiap komoditas peternakan. Komoditas yang telah mengalami peningkatan indeks produksi paling besar adalah komoditas daging ayam ras pedaging, yakni sebesar 26,97 poin dari 134,04 pada tahun 2015 menjadi 161,01 pada tahun 2016.

)










rafik 6. Indeks Produksi Peternakan Tahun 2012 - 2016 (2010 =  100)
Graph 6 Production Indices Of Estate Crops in 2012 - 2016 (2010 = 100
      
   
Grafik 5. Indeks Produksi Peternakan Tahun 2012 - 2016 (2010 =  100)
     Graph 5 Production Indices Of Estate Crops in 2012 - 2016 (2010 = 100)

2.7.5  Perikanan
Pada tahun 2015, indeks produksi perikanan di Lamongan adalah 154,69 meningkat sebesar 2,48 poin dibandingkan pada tahun 2014 yang sebesar 152,21. Hal ini disebabkan oleh peningkatan indeks produksi perikanan budidaya ataupun perikanan tangkap masing-masing sebesar 6,24 dan 4,57 poin. Hampir semua jenis perikanan budidaya telah mengalami kenaikan indeks produksi terkecuali ikan karamba. Jenis perikanan budidaya yang mengalami peningkatan paling pesat adalah budidaya laut, yaitu sebesar 32,41 poin dari 257,06 pada tahun 2014 menjadi 289,47 pada tahun 2015.
Indeks produksi perikanan tangkap pada tahun 2015 mengalami peningkatan baik pada perikanan tangkap di laut maupun di perairan umum. Dari dua jenis tersebut, peningkatan indeks produksi terbesar terjadi pada perikanan tangkap diperairan umum, yakni sebesar 7,20 poin dari 129,79 pada tahun 2014 menjadi 136,99 pada tahun 2015. Hampir semua jenis perikanan tangkap di dua jenis perairan ini telah mengalami peningkatan indeks produksi kecuali tanaman air yang termasuk jenis perikanan tangkap di laut dan binatang berkulit keras serta binatang air lainnya yang termasuk dalam jenis perikanan tangkap di perairan umum.
2.7.7 Kehutanan
Indeks produksi kehutanan telah mengalami kenaikan sebesar 8,71 poin dari tahun 2015 yang sebesar 61,16 menjadi 69,86 pada tahun 2016. Indeks produksi kehutanan menghitung dari indeks produksi kayu bulat dan kayu bakar yang berasal dari hutan alam dan hutan budidaya.
2.7.8 Kontribusi Sektor Pertanian.
Pada tahun 2015, indeks berantai produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian atas dasar harga konstan menunjukkan penurunan sebesar 0,47 poin dibanding tahun 2014. Demikian juga, pada tahun 2016, indeks berantai PDB sektor pertanian atas dasar harga konstan kembali menurun sebesar 0,51 poin dari 103,77 di tahun 2015 menjadi 103,25 pada tahun 2016. Ada tahun 2015, persentase kontribusi dari sektor pertanian terhadap produk domestik bruto mengalami peningkatan 0,15 persen dibandingkan tahun 2014. Namun, pada tahun 2016, sumbangan sektor pertanian terhadap total PDB indonesia mengalami penurunan 0,04 persen dari 13,49 persen pada tahun 2015 menjadi 13,45 persen di tahun 2016.


                                                                                                                                                            
                                                                                                                                                            






Grafik 8. Kontribusi Pertanian terhadap PDB Tahun 2012 - 2016 (%)
Graph 8 Contribution of Agriculture to GDP in 2012 - 2016 (%)

2.8 Permasalahan Utama Kondisi Ekonomi Daerah Dan Solusinya.
2.8.1 Laju Inflasi
Inflasi Merupakan kenaikan harga barang‐barang secara umum. Laju inflasi  yang tidak terkendali dapat memicu penurunan daya beli masyarakat, terutama oleh masyarakat miskin yang tidak memiliki tabungan. Selain itu, tingginya laju inflasi juga memberikan dampak semakin melebarnya tingkat distribusi pendapatan di masyarakat. Inflasi yang tinggi, berpotensi juga menghambat investasi produktif. Hal ini karena tingginya tingkat ketidakpastian (mendorong investasi jangka pendek) dan tingginya bunga. Secara makro, dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Inflasi di Kabupaten Lamongan relative belum stabil. Pada tahun 2011 dan 2012 berada pada kisaran 3%, namun pada tahun 2013 dan 2014 naik pada kisaran 7% dan turun tajam pada tahun 2015 menjadi 1,96%. Selanjutnya pada tahun 2016 kembali turun di kisaran 1.52% masih dibawah Propinsi Jawa Timur (2.74%) maupun Nasional (3.02%). Penurunan angka inflasi tersebut sangat dipengaruhi rendahnya inflasi di komoditas bahan makanan, pendidikan, rekreasi, olahraga, perumahan, air, listrik dan bbm, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Grafik Perkembangan Inflasi di Kabupaten Lamongan sebagai berikut :




Inflasi Kabupaten Lamongan Tahun 2011­2016

Sumber: BPS Kabupaten Lamongan 2017
Solusinya:
Kenaikan harga memang tidak bisa diduga karena terjadi secara alamiah dari sektor ekonomi baik dari tingginya kurs uang dolar sampai iklimpun dapat sebagai penunjang inflasi. Solusi yang ditawarkan penulis terhadap terjadinya inflasi yang selalu terjadi naik turun di daerah Kabupaten Lamongan :
 Dari pernyataan pemerintah juga dapat dikatakan dengan meningkatkan hasil produksi, mempermudah masuknya barang impor, menstabilkan pendapatan masyarakat (tingkat upah), menetapkan harga maksimum, serta melakukan pengawasan dan distribusi barang.
Penulis mengambil Kebjakan Fiskal dan Kebijakan Moneter untuk mengatasi Inflasi  cara mengatasi inflasi oleh pemerintah juga dapat dengan meningkatkan hasil produksi, mempermudah masuknya barang impor, menstabilkan pendapatan masyarakat (tingkat upah), menetapkan harga maksimum, serta melakukan pengawasan dan distribusi barang.
Menurut teori moneter klasik, inflasi terjadi bila peningkatan jumlah uang yang beredar. kemudian Bank Indonesia bisa membuat berbagai kebijakan moneter dalam rangka mengurangi peredaran uang. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat berupa penetapan persediaan kas, politik diskonto, dan operasi pasar terbuka.






BAB III
KESIMPULAN

                  Kabupaten Lamongan sejatinya memiliki laju sektor perekonomian yang sangat pesat dan berpeluang menjadi Kabupaten yang paling subur dalam pendapatan nasional maupun pembangunan ekonominya. Potensi suatu daerah akan terlihat jika kesejahteraan atau pemenuhan saksi dikependudukan tersebut mengalami keharmonisan terhadap kinerja pemerintah Kabupaten Lamongan. Lamongan saat ini terdapat potensi unggul sebagai penggerak ekonomi bangsa yakni terdiri dari sektor pertanian yang luas dan besar, Pariwisata yang banyk sebagai kawasan peminat pengunjung, baik oenduduk WNI ataupun para turis yang berdatangan untuk berlibur.
                  Mendapat penanganan yang tepat akan membuat Kabupaten Lamongan ini semakin unggul pemimpin pembangunan ekonomi yang ada di iondonesia, Namn faktanya Lamongan telah mengalami kesulitan dalam menangani berbagai masalah perekonomian yang salah satunya dari persoalan Inflasi yangtidak stabil di wilayah ini, dikarenakan cuaca di Kabupaten Lamongan sangat sering terjadi perubahan iklim yang merata, menekan adanya penanganan bisa melihat dengan mengatasi persoalan lain seperti kependudukan dan angka kemiskinan di Kabupaten Lamongan yang dalam data dipaparkan mengalami penurunan angka kemiskinan dari tahun ketahun. Itu sebagai pernyataan data kongkrit untuk menyatakan Daerah Kabupaten Lamongan adalah salah satu daerah yang dapat engatasi angka kemiskinan dengan baik, bisa dikatakan efektif dan efisen bijak dalam mengatasi sebuah masalah yang terjadi di daerahnya sendiri.
SARAN
Ø  Bagi penulis yang akan menganalisis Gambaran umum, PDRB dan perkapita, Struktur ekonomi, pertumbuhan, distribusi dan kemiskinan disuatu daerah, Pembangunan ekonomi, Sektor pertanian, Permasalahan utama kondisi ekonomi daerah dan solusinya. Harus lebih mendalam tentang data yang akan disampaikan
Ø  Penulis berharap makalah ini di jdikan rujukan pembelajaran analisis daerah Kabupaten Lamongan
Ø  Bagi pembaca makalah ,supaya mengambil manfaat dan merevisi yang kurang lengkap
Ø  Dosen Memaklumi kekurangan si pembuat makalah.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Sumber: BPS Kabupaten Lamongan (data diolah, 2018)
Badan pusat statistik Provinsi Jawa Timur
BPS Kabupaten Lamongan Dalam Angka 2018
BPS Kabupaten Lamongan. Pertumbuhan dan Kemiskinan tahun 2013-2017
Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Lamongan Tahun 2016 – 2021.
Nuraini, Ida (2017). Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten/Kota Di Jawa Timur. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.





















LAMPIRAN-LAMPIRAN
i

Komentar